« September 2006 | Main | November 2006 »

October 18, 2006

Monster, kebenaran, dan rasa cinta

Penah suatu ketika aku merasa begitu jatuh. Merasa tidak ada yang menginginkanku ada di bumi. Merasa membuat terlalu banyak masalah. Merasa begitu banyak orang yang bahagia kalau bisa menyakitiku. Lalu semua yang kulihat menjadi gelap. Sampai satu titik dimana aku berpikir…

kalau sudah jatuh sampai ke dasar, memangnya bisa lebih jatuh lagi?

Aku mulai berhenti memikirkan apa yg dilakukan orang padaku; aku mulai berpikir kenapa mereka melakukannya. Dulu A yg kukenal tidak seperti ini. Dulu B yg akrab denganku tidak se-tega ini. Apa karena perlakuanku padanya? Emtahlah. Setauku aku tidak berubah. Apa lalu ini berarti orang menjauh ketika benar-benar mengenal aku? Belum cukup merasa bersalah, aku melihat perubahan sikap mereka pada orang lain. Kenapa jadi seperti ini? Kalau kelakuan mereka se-menyakitkan itu, apa karena ingin membalas perlakuanku?

Dan tanpa kusadari aku sudah menciptakan monster-monster itu… dimana menyakiti membuat mereka puas. Dimana merendahkan dan mengacuhkan rasa sakit orang lain membuat mereka merasa lebih berharga. Apa aku yg mengajarkan semua itu? Who knows… dulu sekali rasanya aku pernah berkata;

‘ Apa harus jadi benar-benar brengsek agar bisa bertahan?’

dan satu waktu seorang yg kusayangi berkata ‘ They change me like this, into something that I hate so much. ”  Entahlah. Entahlah. Aku juga melakukannya. Orang yg telah berkorban begitu banyak untukku kusakiti hatinya hingga ia jadi hanya memikirkan dirinya sendiri. Capek denganku, mungkin. Tapi sangat mungkin aku jadi seperti ini krn creator monster yg lain. Jadi begitu tebal benteng pertahananku. Hingga kata-kata semakin sulit menyakitiku. Teringat seorang teman, yang mencintai seseorang diam-diam selama bertahun-tahun, kecewa—sangat kecewa, lalu berubah jadi sangat-sangat berbeda. Seperti apa? Sulit mengungkapkannya, tapi sungguh menyakitkan bagi orang yg menyayanginya. Atau ia membenci dirinya sendiri yg melakukan hal itu? Hanya karena seorang laki-laki diubahnya seluruh hidupnya. Hanya karena cinta.

Yah, akhirnya mau tak mau kubahas juga masalah itu. Kadang aku bosan sekali memikirkannya, begitu muak sampai pgn muntah. Kupikir dahsyat sekali pengaruhnya, sampai2 sepertinya orang-orang punya berhala baru untuk disembah: cinta. Kok semua-muanya jadi bener kalau nyangkut masalah cinta. Bosen. Aku benci kalau harus terjebak perasaan, menginjak harga diri sendiri, padahal belum pasti aku membutuhkan keberadaan orang itu dalam hidupku..hanya karena cinta.

Ah males. Makan tu cinta. Ngomongin yg lain saja. Cinta yg lain. Selama setahun kemaren di bandung, aku selalu menunggu liburan. Pgn pulang. Krn memang ada yg sangat ingin kutemui. Sekarang aku malah bingung. Pgn pulang, tapi berat juga meninggalkan sunken court..tempat kuhabiskan waktu memandangi orang-orang yg kucintai..tempat kumerasa menemukan keluarga baru. Disana tiap detik jadi begitu berharga. Tiap kalimat jadi begitu berarti.

Apa mereka tau, hanya dengan duduk di tangga bersama mereka, sudah bisa menghapus sebagian beban hidupku?

Wah, nampaknya aku jatuh cinta pada mereka semua. Sampe pernah beberapa kali teman sejurusanku protes krn begitu banyaknya waktu yg kuhabiskan disana. Lha ws piye? Udah kaya keluarga sendiri, sehari nggak ketemu malah rasanya aneh. Ada yg kurang. Mungkin kami terikat rasa lapar-pikiran. Terikat  satu keinginan kuat to find out what the hell is going on. Karena kita tak pernah baik-baik saja. Seorang teman pernah berkata “ orang-orang yg chemistry-nya sama akan tarik-menarik.” Aku tak pernah menganggap pertemuan kami hanyalah kebetulan. Dan disinilah kuberada, menemukan keindahan kalian dlm diam yg sempurna. Aku benci ketika orang menuduh kita atheis scr semena-mena ( hey, 'beberapa' tidak bisa diartikan 'semua', kawan!). ok, kami memang terdiri dari banyak warna. Tapi cobalah berpikir rada cerdasan dikit. Kenapa takut mencari bukti kalau kau yakin dengan apa yg kau pegang? Aku mencari kebenaran dgn caraku sendiri. Dengan cara yg paling bisa meyakinkan logika dan perasaanku. Karena fakta yg kutemui membuatku tak mau lagi berlama-lama tinggal dalam ilusi indah yg membutakan pikiranku.

Karena buatku belajar tak cukup hanya menerima lantas percaya [kl kaya gt bukannya jd kurang bermakna?]. kalau kau merasa pemikiran2ku kiri atau salah, maka yakinkanlah aku dgn kebenaran yg kaupegang. Yakinkanlah aku kalau memang itu benar. Itupun kalau kau bisa. Hei hei…aku bukannya keras kepala. Tapi kalau keteguhan dibangun dari sesuatu yg begitu mudahnya diinjeksikan ke pikiran…sudah jadi apa aku sekarang? Jadi datanglah padaku, mari kita berdiskusi, jangan buru-buru kau bilang aku radikal atau agnostik. Bahkan sebelum aku sendiri mendeeklarasikannya. Wah, itu sungguh lancang sekali. Hei, bisa jadi orang-orang seperti kami ‘lebih’ mencari Tuhan… ayolah, bukankah berpikir adalah perintah yg tertulis jelas? Yah, yg pasti aku merasa sekarang hidupku lebih berarti. Daripada memikirkan lelaki sepanjang waktu, atau nonton tv seharian, atau belajar terus supaya dapat kerjaan bergaji besar. Come on, get real. Hidup lebih berarti dari itu...

Kemarin aku marah sekali. Temanku bilang “ ya gimanapun juga yg kuatlah yg menang”. Tentang peluang orang miskin untuk mendapatkan pendidikan. Oh God…tidakkah ia bisa melihat dari mata-mata yg cekung kelaparan? Ok, emang statement tadi benar. Tapi kenapa tidak terlihat sedikit saja rasa empatinya untuk orang-orang itu? Sedikit saja, kumohon…mereka sudah terlalu sakit untuk disakiti lagi. Entah sejak kapan hidupku jadi se-penuh ini .Dan pagi ini kuhabiskan untuk mendengar lagu2 panas dalam (metamorfosis jono bencong) & ngabisin cucian. Lalu memikirkan betapa sejarah ITB bisa sangat bertolak belakang dengan yg diceritakan orang-orang.

Hh.. bisa gila lama-lama. Pikirin yg lain saja. Yg menyenangkan. Seperti..kepulanganku besok misalnya. Tar mau beli tiket dulu ke padalarang. I hope everything will gonna b just fine. Nekat abis naek ekonomi. Gak kuat naek bis AC. Mo gmn lagi? Tinggal hitungan hari ketemu tmn2 lama. Tmn baru yg lama gak ktmu. Dan ibuku. Lalu menengok ayah di pembaringannya. Nenekku yg renta. Dan sebentuk rasa yg kutinggalkan begitu lama. Aku kangen juga ternyata, dengan kotaku. Sambel tumpang, keripik paru, nting-nting. Jadi merasa lucu dengan ritual2 aneh yg akan terjadi stlh ini. Pesen2an oleh2 biarpun gak ada duit ttp maksain beli. Lalu sms lebaran yg membanjir berlebihan. Lucu. Padahal malah ngrepotin yg punya hp. Tiba-tiba kepikiran, bulan ramadhan ini 3 tetanggaku di kosan meninggal. Salah satunya seorang bapak yg selalu menyapaku dgn ramah. Memang sudah sepuh sih. Semoga ia damai di sana. Memikirkan kematian lagi. Apa aku pernah tau, bisa bertemu lagi atau tidak dengan kalian?

Ah…aku ingin pulang
Menjemput rindu yg begitu pekat
Meninggalkan rindu yg tak kalah pekat…